Cerpen · Sastra

KISAH UNTUK ANGKASA


(di atas kertas….)

Tertulis semua perasaanku di atas kertas ini, perdebatan antara cinta, sayang, dan persahabatan. Kisah yang terlalu banyak ku baca di berbagai novel, cerpen, ataupun roman. Diantara pena dan kertas ini, ada pikiranku yang meluap. Jeritan fakta dalam otak ini tak mampu ku bendung. Nyaliku menggigil saat merasakan bayangannya yang selalu menyatu bersama langkahku. Kata pertama yang ingin kutulis segera terbolak-balik oleh logika, kemudian perasaan, hingga aku terombang-ambing di tengah-tengahnya. Aku mencoba merangkai kisah-kisah yang mengaitkan aku dengannya. Ingatanku meraba-raba diantara baris-baris ini. Akan kucoba dengan kisah yang pertama….

(kisah pertama, di sebuah ujung jalan, di suatu malam, desember 2009)

“Jadi bagaimana?” Bulan melirik kesal pada laki-laki di sampingnya.”Kau masih akan menemuinya?”

Laki-laki itu tampak kacau. Rambutnya berantakan, memberikan kesan kalau dia sedang depresi, hal ini terlukis jelas pada raut mukanya. Dia mulai meremas rambut hitamnya, erat, lalu semakin erat. Bulan menghalanginya, “Hentikan! Jangan sakiti dirimu lagi! Cukup!”

Bulan tak tahan melihat laki-laki itu. Dia membalikan badan, sembari menghapus air matanya.

“Kau pergi…”ucap laki-laki itu tiba-tiba. Bulan terkejut. Kemarahannya pun terpancing. “Kau pikir kau siapa bisa menyuruhku pergi ?!”

“Untuk apa kau menangis di sini?!!”laki-laki itu menaikkan suaranya.” Jangan pernah tunjukkan airmatamu di depanku ! Pergi !!!”

Bulan kecewa. Dia mengangkat tangannya. Lalu mendaratkan tamparan di pipi laki-laki itu.

“Kau kira aku akan meninggalkanmu sendiri dalam keadaan seperti ini?! kau ingin membuatku menelantarkanmu, sahabatku sendiri?!! Itu yang kau mau?!!!” Bulan pun lebih menaikkan suaranya.”Kau kacau seperti ini. Menyuruhku pergi apakah akan membuatmu lebih baik? Kau pikir aku siapa? Apa kau juga akan meninggalkanku jika keadaanku seperti dirimu saat ini?!!!” Bulan tak mampu membendung emosinya. Dia menangis. Kecewa dengan sikap sahabatnya. Sakit hatinya saat ini.

Laki-laki itu tertegun. Terdiam. Kemudian mencoba menengok. Melihat mata Bulan yang basah. Sesuatu menghampiri dirinya. Suatu perasaan….

(kisah kedua, di sebuah ruang kelas, pada pagi yang cerah, awal 2004 )

Angkasa memandang langit cerah di luar, kombinasi antara birunya langit dan putihya awan begitu luar biasa. Begitu ingin dia menuangkannya pada sebuah lagu. Atau sebuah gambar? Mungkin bisa juga puisi. Atau diary? Ah tentu saja tidak. Pilihan terakhir bukan untuk Angkasa. Angkasa kemudian teringat akan  sahabatnya. Ia belum melihat sahabatnya itu di kelas. Pandangan Angkasa beralih pada jam dinding di kelas, sudah terlalu siang untuk seseorang yang terlambat. Kemudian pandangannya melayang pada papan tulis di depan. Sang guru telah beberapa kali menghapus papan tulis, mengganti satu materi dengan materi lainnya. Angkasa melirik meja di sampingnya, masih kosong.

Di sela usahanya untuk menarik kesimpulan, Angkasa dikejutkan oleh suara ketukkan pintu di ujung depan. Lalu muncul sosok yang sedang menjadi tokoh utama dalam pikiran Angkasa. Nafas gadis itu terengah-engah. Kulit putihnya dibanjiri keringat. Gadis itu meneruskan langkahnya ke meja guru, melewati beberapa siswa dengan kasak-kusuk mereka. Kemudian menyerahkan sebuah kertas kepada sang guru. Sang guru menerimanya, lalu mengatakan sekaligus menanyakan beberapa hal pada gadis itu.  Gadis itu hanya bisa memohon maaf sambil menerima semua perkataan sang guru tanpa bisa menyela. Akhirnya gadis itupun bisa menghela nafas di tempat duduknya.

“kenapa terlambat?” Angkasa pun bertanya.

“nggak apa-apa…” hanya keluar jawaban singkat yang pastinya mengecewakan Angkasa.

Angkasa terpaksa menyimpan rasa penasarannya. Pikirannya melayang-layang merangkai kemungkinan-kemungkinan. Ditambah lagi, Angkasa merasa ada sesuatu yang tidak wajar.

Hingga jam pelajaran berakhir, dan Angkasa masih pada rasa penasaranya.

Gadis itu bergegas berdiri dan meninggalkan tempat duduknya, tanpa melihat ataupun menyapa Angkasa. Satu lagi keanehan yang dilakukan gadis itu. Angkasa pun beranjak, mengikuti gadis itu. kemudian sampai di tikungan lorong, Angkasa menghentikan langkah gadis itu, kemudian menarik tangannya.

“Aw…”rintih gadis itu.

Angkasa melihat tangan Bulan yang merah. Lalu meneliti bagian tubuh yang lain. Menyibak rambutnya. Dan menemukan benjolan kecil yang merah, hampir keluar darah.

“Dia melakukannya lagi?” Tanya Angkasa.

Bulan mengangguk pelan. Matanya memerah.

“Kau jangan tinggal bersamanya lagi!” ucap Angkasa.

“tapi hanya dia keluargaku…” Bulan mengusap air matanya yang terlanjur menetes. Keinginannya untuk menahan kesedihannya sudah tidak mampu dilakukannya lagi.

Angkasa menggapai tubuh Bulan. Lalu menuntunnya ke ruang kesehatan.

(diatas kertas)

Dia selalu ada untukku, dan aku selalu ada untuknya. Kenyataan itu tanpa sengaja tergores pada perjalanan hidup kami. Diantara dia dan aku telah terjadi konflik batin yang belum terselesaikan. Penggalan-penggalan kisah itu selalu menghantui dimensi dimana kami berdiri. Kini dia pun harus beradu dengan perasaan yang sengaja ia sisakan untuk seorang gadis yang begitu mencintainya. Sedangkan aku yang sendiri ini hanya memiliki dirinya. Fakta yang membuatku seperti ini.

(kisah ketiga, di suatu gedung olahraga, sore , 2003)

Angkasa melambung tinggi di udara. Melayangkan tangannya, berusaha menggapai umpan dari lawannya.

Bulan merubah posisinya di kursi penonton, mengikuti irama pertandingan. Menangkupkan kedua tangannya. Berharap cemas.

Angkasa berhasil mengebalikan bola dengan baik, dan justru mengubah keadaan karena lawannya kali ini memberi bola yang tanggung. Akhirnya Angkasa pun menyelesaikan pertandingan itu dengan smash-an keras ke ujung kiri lapangan lawan.

Penonton pun berteriak riuh. Bulan menarik nafas lega. Ia meneriakkan nama Angkasa. Sambil mengangkat tangannya menunjukkan dukungan.

Angkasa tersenyum lebar, kepastiannya menjadi juara turnamen ini membuatnya semakin percaya diri. Melenggang kearah pendukungnya.

Bulan menanti dengan decakan kagum.

“Bulan….” Tiba-tiba seseorang memanggil, membuat pandangannya teralih dari Angkasa. Saat mendekat Bulan baru menyadari bahwa itu Om Syarif, tetangga yang cukup dekat dengan keluarganya.

“Om? Ada apa” Tanya Bulan penasaran.

“Kamu harus pulang?”

“Kenapa Om? Tapi saya…”

“Ayo pulang dulu….”

Bulan tak bisa mengelak. Diikutinya pria itu, seraya melirik ke arah Angkasa, melayangkan pandangan maaf. Angkasa memperhatikan kepergiannya dengan kecewa.

Bulan terdiam di dalam mobil. Pikirannya masih di gedung olahraga itu. Pasti Angkasa sangat kecewa dengannya. Dia melirik pria separuh baya di sampingnya.

“Om, kenapa om belum jawab pertanyaan Bulan? Ada apa om?”

“Bentar ya Bulan, sebentar lagi kita sampai”

Bulan mengerutkan dahinya. Kecewa dengan jawaban yang didapatkannya.

Akhirnya Bulan menyadari kalau mereka sedang tidak menuju rumah, tapi menuju ke tempat lain.

“Om, kita mau kemana?”

Pria itu menghela nafas, seperti mempersiapkan kata-kata yang akan ia keluarkan.

“Bulan, kita sedang menuju rumah sakit…papa dan mamamu kecelakaan…mereka sedang kritis….”

Bulan tersentak. Matanya tak mampu berkedip.

……

“Lorong itu begitu panjang. Semua nampak putih. Di kanan kiri, membuatku pusing, begitu banyak manusia. Aku mengusap-usap kedua mataku. Sudah berusaha ku hentikan, tapi kenapa air mata ini terus mengalir. Seorang paman menuntunku. Mungkin karena kakiku sudah lemas. Beberapa kali aku hampir terjatuh. Kemudian kami menuju lorong lainnya. Masih panjang. Masih putih. Lalu semakin putih. Aku terhuyung, langkahku terhenti…..”

……

“Samar-samar kulihat pintu di depan terbuka. Seseorang berbaju putih lainnya keluar. Lalu sebuah kereta dorong. Tidak…dua buah….Keduanya tertutup kain putih…..Apa ini? kenapa semua putih….pikiranku berputar…lalu tiba-tiba semua jadi hitam…..”

….

………

“ Aku membuka mataku. Ada Angkasa di sampingku. Dibelakangnya ada seseorang, oh bukan dua orang. Ada Papa dan Mama. Mereka tampak pucat. Mereka seperti mengatakan sesuatu. Aku ingin menggapai mereka, tapi kurasakan tanganku tak terangkat…..Angkasa tolong aku….Mama…Papa….jangan pergi dulu…..Angkasa tolong…..Semua kembali hitam….”

…..

Semua telah pergi. Hanya tersisa Bulan dan Angkasa di samping gundukan tanah yang tertutup mawar itu. Bulan menatap kosong, dengan mata merah dan basah. Angkasa di sampingnya. Menunggunya dan menopang tubuhnya. Angkasa mencoba untuk tetap tenang.  Ia tak mau menambah kesedihan Bulan. Namun kepedihannya yang mendalam membuatnya tak mampu menahan airmatanya….

(diatas kertas)

Seperti tergambar kesempurnaan dalam hubungan kami. Tali yang secara tidak sadar telah mengikat kami, semakin erat seiring terkikisnya waktu. Kemudian datang saat dimana kami berdua saling menegok kepada sebuah pendewasaan, saat dimana egoisme masing-masing memuncak.

(kisah kelima, Akhir 2006, halaman sekolah)

Angin bergabung dengan sinar matahari mencoba untuk mengkombinasikan suasana. Saat sinar mampir, sang angin senantiasa mengiringinya, mencoba menyeimbangkan panasnya hari ini dengan sejuk tiupannya. Sebuah siluet nyata pun tergambar di bawah sebuah pohon pada halaman belakang. Sang angin dengan usil menyibak rambut lurus nan panjang itu, hingga sinar menerpanya, lalu terlihat kilau rambut itu.  Sang pemilik rambut membiarkannya. Dia hanya terdiam, memperhatikan Angkasa di sampingnya.

Angkasa menarik nafas. Dia melayangkan padangan kebimbangan kearah Bulan.

Jika Angkasa meminta pendapatnya kali ini, Bulan bingung harus memberi pendapat apa.

Bukan kali ini saja Angkasa bercerita tentang gadis-gadisnya, para gadis yang telah menyatakan perasaan padanya. Angkasa tak pernah berani mengambil keputusan. Ia selalu menggunakan Bulan sebagai penentu jawaban terakhirnya.

“jadi….?” Bulan menjawab datar.

“Haruskah aku tolak?”

Bulan mengerutkan dahinya. Lalu memperhatikan mimik penasaran Angkasa. Kemudian menunduk. Terdiam hingga beberapa saat.

Lalu bersuara.

Kali ini ia memilih intonasi yang tak pernah ia gunakan sebelumnya di hadapan Angkasa, ketus.

“Kenapa kau selalu tanyakan ini padaku? Berulang kali kau tanyakan ini padaku, tapi kau tahu pada akhirnya aku tak bisa menjawab pertanyaan itu… Tidak bisakah kau menjawabnya sendiri?”

Angkasa terperangah. Ia tak menyangka Bulan akan berubah seperti itu.

“Kamu kenapa Lan? Aku hanya minta pendapat. “

“Jangan pernah tanyakan itu lagi padaku….Kau bodoh dengan selalu menanyakan pertanyaan yang sama padaku, dan aku tak pernah menjawabnya…!”

Angkasa kesal sekaligus kecewa dengan perkataan Bulan.

“Sudahlah lupakan. Anggap aku tidak pernah bertanya!”

Angkasa memalingkan wajahnya.

Angkasa pun berlalu. Meninggalkan Bulan sendiri bersama angin. Sinar pun ternyata telah pergi seiring dengan kepergian Angkasa. Pantulan kilau dari rambut itupun tak terlihat lagi.

Bulan menyesal. Menyesal akan perlakuannya pada Angkasa. Ia pun beranjak. Berjalan menuju lorong, dengan langkah hampa.

Perlakuannya pada Angkasa bukan tanpa dasar. Ada satu titik kecil yang menjadi tumpuan Bulan. Titik kecil yang selama beberapa hari ini menggerogoti Bulan. Menjadikan akal sehatnya tak wajar, hatinya kacau, jantungnya tak normal. Yang sebenarnya ingin ia tanyakan pada Angkasa pagi ini. Namun Angkasa justru datang dengan pertanyaannya sendiri.

Keesokan harinya, terlihat Angkasa datang ke sekolah bersama seorang gadis. Bulan memperhatikan mereka berdua, serasi. Tampak keceriaan di wajah keduanya.

Titik itu membesar lagi….

(kisah keenam, juni 2007, sebuah jalan)

Diatas jalan ini, langkah Bulan enggan tergerak. Seolah terhalang atau seakan terpaku. Sebuah perdebatan baru saja terjadi. Antara Angkasa dan Luna, tapi terpaksa mengikutkan Bulan di dalamnya.

Angkasa mengejar Luna di depannya.

Luna tak bergeming. Ia tetap memacu langkahnya.

Bulan menggigit bibirnya. Mencoba menyaingi rasa sakit di hatinya.

Kemudian Angkasa berhasil meraih tangan Luna. Membuat langkah gadis itu terhenti.

“Aku bilang cukup…” ucap Angkasa

Gadis itu tak peduli. Ia menangis.

“Sampai kapan kamu mau terus seperti ini?”

Luna menaikkan wajahnya.

“Jadi apa maumu?”

“Aku mau kita dewasa…!”

Luna urung mendegarkan kata-kata Angkasa. Ia masih berontak, berusaha melepaskan pegangan Angkasa.

Sekilas ia mendaratkan pandangannya pada Bulan. Membuat Bulan semakin ciut.

Perasaan itu bercampur. Antara rasa bersalah dan egoisme dalam dirinya saling bergulat. Bulan tak bisa pergi dari Angkasa, hanya Angkasa yang ia miliki. Ia merasa ia tak akan mampu bertahan tanpa Angkasa. Luna tak mampu menerima kenyataan itu. Dan Angkasa pun tak bisa mengorbankan Bulan demi Luna….

Putaran ini pun berlanjut.

(Diatas kertas)

Dia adalah kisahku. Melayang kepada sebuah pertanyaan ketika aku membayangkan dirinya yang selalu bimbang. Kenapa? Dia takut pada apa yang ia percayai. Takut jika akan ada yang tersakiti. Kenapa? Membuat dirinya sendiri tersiksa. Membuatnya lemah. Aku takut jika dia semakin melemah lagi. Kenapa? Kuharap aku dapat pergi sejauh-jauhnya jika memang aku yang membuatnya seperti ini.

(Kisah ketujuh, Desember 2010)

Gadis itu datang. Luna.

Keluar dari mobilnya, kemudian melangkah ke arah Angkasa.

Dia akhirnya datang.

Angkasa berdiri, ingin menyambutnya. Tapi tubuhnya yang lemah membuatnya terhuyung beberapa saat, hingga ia kembali mendapatkan keseimbangannya, dan kembali menatap Luna. Kemudian tersenyum.

Luna membuang tatapannya. Menghindari jika Angkasa sampai menangkap matanya hampir basah.

“Luna…” panggil Angkasa.

Luna enggan menanggapi panggilan itu. Ia memilih menghadapi teriknya matahari diatas sana daripada mendaratkan pandangannya pada Angkasa. Hingga akhirnya ia tidak tahan, lalu menampar Angkasa. Angkasa kembali terhuyung, lalu terbatuk.

Luna menangis. Rasa kecewa yang bercampur dalam dirinya memuncak.

“Kenapa kau jadi seperti ini?” Luna membantu menegakkan tubuh Angkasa. “Laki-laki lemah seperti dirimu ini, bagaimana mungkin bisa menemukan Bulan?”

“Maafkan aku…”ucap Angkasa perlahan.

“Maaf…maaf…apa hanya itu yang bisa kau ucapkan?” Luna keras menanggapi.

Satu tahun sejak Bulan pergi. Dia pergi tanpa meninggalkan pesan apapun. Saat keputusasaanya pada Angkasa mencapai titik tertinggi. Tepat satu tahun yang lalu.

………………………………………………………………………………….

Luna membasahi sapu tangannya dengan air, kemudian menempelkannya pada pipi Angkasa yang merah.

“Sakit?” Luna menanyakan dengan lembut pada Angkasa.

Angkasa hanya menggeleng.

“Maafkan aku…” ucap Luna lagi.

Angkasa kembali menggeleng. “tidak…harusnya aku yang minta maaf…”

“Pikiranku hanya terlalu bingung…aku tidak tahu harus bagaimana saat bertemu denganmu. Setelah Bulan pergi dengan tiba-tiba, lalu kau pun hilang tiba-tiba. Aku sangat takut terjadi sesuatu pada kalian berdua, apalagi kamu…sejak Bulan pergi, kau jadi sakit-sakitan. Kemana saja kamu selama ini?”

Angkasa tersenyum simpul.

“aku juga sudah tidak ingat kemana saja aku pergi. Seperti terlalu banyak tempat yang kukunjungi. Aku mendatangi  tempat-tempat yang pernah kudatangi bersama Bulan.”

Kali ini Luna yang tersenyum simpul. “Begitu ya…” Suara Luna memelan. ”Aku bahkan tidak bisa menggantikan tempatnya di hatimu.”

“Maafkan aku…” ucap Angkasa lirih.

“Tidak…sudahlah lupakan. Kini aku yang merasa bersalah. Dia pergi karena merelakanmu untukku. Tapi ternyata justru membuatmu sadar, bahwa ternyata kau tak bisa hidup tanpa dirinya.”

Beberapa saat mereka terdiam. Masing-masing saling menyelami masa lalu. Puncak konflik batin yang terjadi satu tahun yang lalu itu pun seperti tergambar lagi.

“Kau buru-buru menemuiku setelah aku memberitahumu bahwa Bulan menghubungiku. Dia mengira kita masih bersama. Tapi kukatakan padanya bahwa kau sudah seperti orang gila. Berkeliaran tidak tentu di jalan. Dia menangis saat kuceritakan hal itu….”

“Sekarang dimana dia?”

…………………………………………………………………………..

Angkasa termenung. Segala perkataan Luna telah membuatnya berpikir dengan keras. Luna baru saja meninggalkannya dengan pertanyaannya yang masih menggantung. Ia kembali teringat saat terakhir kali ia bertemu dengan Bulan. Malam yang terasa begitu kacau itu, Bulan dengan sabar mendampinginya. Luna baru saja memutuskannya. Angkasa berulang kali memohon pada Luna agar tidak berpikir gegabah. Namun keputusan Luna sudah bulat. Setelah seharian ia kehilangan kewarasannya, lalu memuncak saat ia bertemu dengan Luna bersama mantan pacarnya. Semudah itukah? Pikirannya kembali menggila. Ia mengira bahwa sumber permasalahnnya adalah pada laki-laki itu. Bulan yang sedang bersamanya saat itu berulang kali menenangkannya, menyuruhnya untuk berpikir rasional.

“Angkasa…jika ingin menemuinya, susunlah akal sehatmu dulu. Aku tak akan mengijinkanmu menemuinya jika kau masih seperti ini. Aku akan menarikmu jika perlu. Aku mohon…” ujar Bulan. “Aku tak mau kau terlibat keributan karena masalah ini. Jangan sekarang Ka…temui dia besok. Aku yakin jika dia akan mendengarkanmu…aku tahu benar Luna, ia pasti selalu akan mendengarkanmu…”

Itulah kata-kata yang akhirnya membuat Angkasa terdiam. Bulan yang ia sayangi selalu berhasil membuat hatinya lebih tenang. Bulan….

Tapi ternyata, hari dimana ia menyadari semua itu menjadi hari terakhir dirinya bertemu dengan Bulan-nya.

Bulan…..

Pikirannya kembali melayang.

Langkahnya tergerak seperti biasanya, saat rasa rindunya pada Bulan memuncak. Ia bahkan tak bisa mengendalikannya. Benar kata Luna, seperti orang gila…

Angin malam mulai terasa, udara dingin pun mulai menampar kulitnya. Angkasa masih mengikuti ayunan langkah-langkahnya. Kemudian terduduk.

Ia melihat sekitar. Ia baru menyadari bahwa dirinya sedang berada di tempat perpisahannya dengan Bulan satu tahun yang lalu. Di tepi jalan dengan suara bising kendaraan yang melintas. Di kursi panjang ini, dimana Bulan berulang kali menenangkan perasaaanya. Ia merindukannya…merindukan sahabatnya… Ia rela terlihat cengeng di depannya, asalkan itu Bulan. Ia ingin bersandar padanya, asalkan itu Bulan.

Angkasa meringkuk di kursi panjang itu. Selama beberapa hari ini, jalanan memang menyatu dengannya. Angin malam pun selalu menjadi selimutnya. Ia pun tertidur.

Malam yang semakin larut tak dipedulikan Angkasa. Ia ingin bermimpi, membawa Bulan dalam mimpinya. Memiliki Bulan dalam mimpinya…

Ia merasakan lembut belaian tangan Bulan menyisir rambutnya yang kucal. Merasakan tubuhnya semakin hangat. “Apakah aku masih bermimpi…?”

“Angkasa…” suara Bulan yang lembut membisiki telanganya.

“Aku masih bermimpi….” Pikir Angkasa.

“Angkasa…” suara Bulan terdengar lagi. Namun kali ini terasa nyata. Kemudian seseorang menggoyangkan tubuhnya. “Angkasa…”panggilnya lagi.

Angkasa membuka mata. Kedua bola mata itu bertemu. Mata coklat…itu milik Bulan. Itu Bulan… Ini memang Bulan.

(Diatas kertas)

Saat berpaling dan kau tak ada, aku takut. Ketakutan yang tak mampu kuhadapi. Jika itu sampai membuatmu gila, itu pun yang kurasa. Membayangkanmu pergi membuatku terjebak dalam kehampaan. Aku ingin kita berdua menari dalam indahnya kebersamaan. Selamanya….

.:The End:.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s