Cerpen · Sastra

Kilatan Waktu : part 1


“Terbang dan melayang semua rasa ini. Berhambur ke arah yang tidak jelas. Mengapa segala hal yang tak pasti ini kembali menyerang mimpiku. Perpisahan menyakitkan itu hampir membuatku gila. Kenapa tiba-tiba bayang-bayangnya muncul lagi? Terlalu menyakitkan bagiku. Kapankah Engkau membiarkanku tenang Tuhan….?”

Rio merenung, hampir menggerutu di ranjangnya. Ingatan tentang masa lalunya kembali menghantuinya. Di saat dia ingin mengikhlaskan perpisahannya dengan teman terbaiknya, kenangan itu muncul lagi.

Dengan terpaksa dia bangkit dari tempat tidur, kemudian meneguk botol Aqua dari kulkas. Merasa tidak cukup, dia beranjak ke wastafel kemudian membasahi wajahnya dengan air dingin, membuat matanya lebih terbuka.

***********************************************************************************************************

Rio kembali terdampar pada pikirannya tentang Elena.

“Ini pertanda apa…?”desah Rio.

Rio tak menyadari kalau ia sedang berada di tengah-tengah rapat di kampusnya. Dia seorang staf Badan Eksekutif  Mahasiswa. Pak Arya mendorongnya untuk menjadi seorang aktifis di kampus. Walaupun sebenarnya dia lebih suka untuk menghabiskan waktu senggangnya dengan bekerja di bengkel.

“Ya, Rio. Ada ide?” Andra, sang ketua BEM mengira Rio sedang menanggapi pernyataan yang sedang disampaikannya.

“Oh, maaf… silahkan teruskan..” Rio menjawab dengan sedikit gagap. “Sial…” keluhnya dalam hati.

Untuk beberapa saat perhatiannya teralih pada rapat itu, tapi kemudian ingatan tentang masa lalunya kembali bermunculan, memaksa Rio untuk menyelami satu per satu.

Sudah sepuluh tahun Rio hidup merantau. Ia tak memiliki keluarga. Ia hanya memiliki seorang (yang dianggapnya) paman, yang selama kurang lebih 19 tahun ini merawatnya. Yang mengajarinya bagaimana untuk bisa hidup mandiri, mengumpulkan uang dengan keringat sendiri, juga memberi kesempatan bagi Rio untuk bisa mendapatkan pengalaman hidup sebanyak mungkin.

Sepuluh tahun yang lalu, di saat itulah, ia mempunyai seorang sahabat yang selalu berada di sisinya. Seorang gadis lincah yang selalu menghiburnya. Membuat Rio bersemangat saat berada di dekatnya. Mereka bersama hampir selama 7 tahun. Hingga tiba hari itu, kenangan yang begitu berbekas di ingatan Rio. Saat itu mereka berumur 13 tahun. Rio berjalan menuju bukit, tempatnya biasa bertemu dengan Elena. Pikirannya masih dipenuhi tentang percakapannya semalam dengan Pak Arya. Dalam waktu dekat ini Pak Arya akan pindah ke Jakarta. Ia pun mengajak Rio untuk ikut serta bersamanya dan berjanji akan menyekolahkannya disana. Tawaran itu seperti harga mati bagi Rio. Ia tak bisa menjawab tidak. Harusnya pagi ini ia sudah mulai berkemas, karena siangnya ia harus segera berangkat ke pelabuhan, kemudian ke Jakarta.  Namun ia memutuskan untuk menemui Elena terlebih dahulu. Sekedar berpamitan pada gadis itu. Namun apa yang terjadi, justru dirinya tak sanggup menyampaikan kata perpisahan itu. Ia memilih diam, dan berbohong pada Elena. Dan kini perasaan bersalah itu selalu menghantuinya.

6 thoughts on “Kilatan Waktu : part 1

  1. tuuuh kan yg perpisahaan sepuluh tahun aja masih bs ke inget…apalagi yg cuma baru 6 bulan…..*out of context yaa* hehe..

    bagus sun tulisannya…ga nyangka aku…terharu…*_*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s