Cerpen · Uncategorized

Bukit dan Sungai : Part III


Tubuh pucat itu masih tak bergerak. Hanya nafas putus-putusnya saja yang masih membuat orang-orang di ruangan itu yakin bahwa masih ada harapan.

Seorang keluar dari kamar itu dengan langkah berat. Kekecewaan yang begitu besar ia rasakan. Merasa tak mampu melindungi orang-orang yang dikasihinya.

Apa ini? Setelah sepuluh tahun berpisah, kemudian bertemu dengan cara seperti ini. Satu-satunya teman yang ia miliki sepuluh tahun yang lalu harus beradu dengan maut di dalam kamar itu. Sebuah pukulan keras mendarat ke tembok di hadapannya. Tangannya berdarah. Tapi ia tak mampu merasakan sakit.

 

“Sudahlah…” Sesosok pria menenangkannya. Pria itu merapatkan kembali pintu kamar, lalu berjalan menuju kursi panjang di depan. Kemudian mulai berkata:

“Selama sepuluh tahun ini ia berubah menjadi anak yang pendiam. Padahal dulu dia anak yang ceria. Dia sering ke tempat itu, ke bukit. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan di situ, tapi lama-lama kebiasaannya itu semakin menjadi dan tidak wajar.”

Rio terkejut.

“Tidak wajar?” tanyanya.

“Dia jadi sering berimajinasi. Berkata ini itu tentang dirimu. Kalau dia sedang belajar bersamamu di bukit, menangkap kupu-kupu bersamamu…

Rio semakin tidak mengerti.

“Maksud om?”

“Skizofrenia…” ia mendesah,” Terakhir sebelum dia tenggelam, ia berkata bahwa ia ingin membersihkan sungai bersamamu. Katanya, sampah-sampah mulai menumpuk dan membuat kalian kesal. Namun ia pergi tanpa sepengetahuan kami. Biasanya kami selalu mengawasinya kalau dia akan ke bukit. Dan tidak tahunya setelah semalaman ia menghilang, esok harinya ia ditemukan di hilir sungai.” Tangis om Fahmi tak terbendung lagi.

Rio tersentak. Skizofrenia? Tidak mungkin Elena… Rio bahkan tak berani menyimpulkannya.

“Ini salah saya…” Rio berkata tertatih, sambil menahan isaknya. Perasaan bersalah memenuhi otaknya.

*************************************************************************************************

Rio…

Perasaannya tenggelam. Mengais-ngais ingatannya sepuluh tahun yang lalu. Ia hanya seorang bocah malang yang hidupnya hanya bergantung pada pekerjaan serabutannya. Ia bahkan tak menyangka jika kehidupan seorang gadis bergantung padanya. Jika ia tahu hal itu, ia tak akan membiarkan dirinya pergi mengejar mimpinya, tapi di satu sisi menghancurkan mimpi gadis itu.

Oh Elena…

Andai saja Rio tahu.

2 thoughts on “Bukit dan Sungai : Part III

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s