Cerpen · Sastra

Bukit dan Sungai : Part II


Ada tiga orang dalam ruangan ini. Seorang wanita setengah baya yang selama empat jam ini terus menyeka matanya yang tak henti-henti mengeluarkan airmata. Kemudian ada seorang pria yang tertunduk sambil meremas rambutnya, lalu sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya seperti menyesali sesuatu. Dan seorang lagi yang sedang berdiri dengan tatapan kosong. Matanya tak mampu menangis. Dia masih tidak percaya pada apa yang sedang dilihatnya, sesosok tubuh lemas yang sedang terbaring tak sadar di ranjang rumah sakit. Tubuh itu tertutup selimut. Wajahnya sangat pucat. Dia mengusap-usap matanya, berharap bahwa semua ini hanya mimpi. Tapi gambaran yang sama ia dapatkan saat ia melepaskan tangannya.


***

Elena mulai berjalan. Langkahnya terayun selaras dengan siulan indahnya. Rio mengajarinya bersiul. Dia tersenyum sepanjang jalan. Dia ingin menunjukkan bahwa ia berhasil menguasai siulan khas Rio dalam waktu singkat.


Pagi ini saat Elena terbangun, ia terduduk lama di atas ranjangnya. Sambil menggerak-gerakan bibirnya. Bermain dengan lidahnya. Mencoba mengingat-ingat bagaimana Rio melakukan siulannya. Ia sudah bertaruh bahwa ia pasti bisa melakukannya. Tapi ternyata hal ini tidak mudah. Hampir saja dia menyerah, hingga akhirnya ia berhasil menghasilkan suara.


Langkahnya semakin cepat, juga terlihat semakin angkuh. Wajahnya menyiratkan kebanggaaan pada dirinya sendiri. Ia menikmati siang ini. Hari Minggu selalu membuatnya bersemangat. Terlepas dari PR-PR yang harus dibawanya saat ia menemui Rio. Rio yang pintar selalu mengajarinya menyelesaikan masalah-masalah rumitnya. Ia heran. Rio tak bersekolah seperti dirinya, tapi ia lebih pintar, dan selalu lebih tahu apapun darinya. Terkadang ia kesal karena selalu kalah dan terlihat lebih bodoh dari Rio. Tapi ia lebih memilih untuk mengagumi temannya itu.


Rio tak memiliki orang tua. Ia tinggal bersama seorang paman yang memberinya pekerjaan sebagai pengantar koran. Ia ingin membujuk orang tuanya untuk mengangkat Rio menjadi anak mereka, menjadi saudara Elena. Orang tuanya pasti akan terkesan mengetahui kepintaran Rio.


Lamunan Elena terhenti saat ia sudah sampai di bukit. Dia mendapati Rio sedang membersihkan sampah-sampah di sungai. Mereka berdua sering dibuat kesal oleh tingkah orang-orang tidak bertanggung jawab yang suka membuang sampah di sungai. Elena segera turun membantu Rio.


“Banyak sekali sampahnya…” keluh Elena.
“Terkadang aku suka bingung kenapa penduduk disini suka menyakiti kejernihan sungai ini. “ tambah Rio
Elena mengiyakan.
“Oh iya aku ingin menunjukkan sesuatu…” kata Elena
“Apa?”
Elena bersiap memamerkan keberhasilannya. Namun tiba-tiba dari atas bukit terdengar seseorang memanggil Rio.
“Rio naiklah…” ternyata suara bos Rio.
“Oh iya…aku harus bekerja hari ini. “ jelas Rio sembari mengambil sampah-sampah di tangan Elena,
”Pak Arya memberi ku pekerjaan tambahan hari ini..maaf ya…aku pergi dulu…” lanjut Rio, lalu meninggalkan Elena.
“Rio…”panggil Elena.
Rio menengok.
“Enggak jadi…”sahut Elena.


Hari ini, Elena belum berhasil memberitahu Rio. Elena cukup kecewa. Tapi sudahlah. Elena cukup memahaminya.
Namun siapa yang mengira kalau ternyata hari-hari setelah itu, ia tak bisa menemui Rio di bukit ini lagi.

to be continued…

6 thoughts on “Bukit dan Sungai : Part II

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s